Cerpen Persahabatan

Updated at: 23.42.
Under Category : Cerpen

Cerpen Persahabatan - Buat kamu semua yang suka dengan cerpen dan ingin tahu arti persahabatan itu seperti apa, kali ini edriz akan berbagi tentang Cerpen Persahabatan yang mengisahkan sepasang sahabat yang saling bantu-membantu satu sama lainnya. Mari kawan kita baca bersama-sama Cerpen Persahabatan yang ada dibawah ini.

Cerpen Persahabatan


Sekolah baru saja usai, Dan Gina sedang berjalan pulang ketika mendengar suara seseorang memanggilnya. Dia menoleh ke belakang. Terlihat Nita berlari mengejarnya dengan tergopoh-gopoh.

Ada apa Nita??, tanya Gina keheranan.

Begini, aku mau mengembalikan ini, kata Nita sambil mengangsurkan sebuah tas plastik kepada Gina.

Gina, melihat isi tas plastik tersebut, lalu bertanya, Lho, kenapa dikembalikan, kamu tidak suka sepatu ini ya???

Tidak, eee.. maksudku, aku suka sepatu itu.

Lantas mengapa sepatu ini kamu kembalikan kepadaku, apakah kamu tidak memerlukannya???, tanya Gina menyelidik.

Sebenarnya aku sangat memerlukan sepatu itu, tapi,, suara Nita terhenti, dia ragu untuk meneruskannya.

Tapi apa Nita??, tanya Gina lagi.

Nita teringat dengan kejadian kemarin. Ketika itu, dia baru saja pulang dari sekolah. Saat masuk rumah, segera ditemui Ibunya yang sedang memasak di dapur.

Ibu.. Ibu.. lihat, katanya sambil berjingkat-jingkat penuh kegirangan.

Ibunya menengok sebentar ke arah Nita, kemudian kembali sibuk mengaduk-aduk masakannya di panci, Lihat apanya??

Lihat ini dong Bu, bagus sekali kan?, kata Nita sambil mengangkat kaki kirinya, menunjukkan sepatu baru yang sedang dipakainya.

Ibunya menengok sekali lagi sambil berkata, Iya, bagus sekali sepatu yang kau pakai. Ngomong-ngomong, sepatu itu pinjam dari siapa?”

Ah Ibu, ini sepatu milikku, kata Nita dengan nada gembira.

Oh begitu. Lho, jadi kamu sudah membuka tabunganmu ya. Memangnya sudah terkumpul banyak uang tabunganmu??, tanya ibunya.

Tidak, uang tabunganku masih utuh di dalam celengan. Sepatu ini aku dapat dari Gina. Dia yang memberikannya untukku.

Ah masak sih, kok bisa begitu??, tanya ibunya tidak percaya. Ingat, kamu jangan suka meminta-minta lho pada teman-teman kamu, lanjutnya.

Tentu tidak dong Bu, sergah Nita, ceritanya begini bu, kebetulan Gina membeli sepatu baru minggu lalu, tapi ternyata sepatu itu kebesaran sedikit. Karena itu Gina menawarkannya kepadaku. Lantas aku coba, kok pas sekali untukku. Lalu Gina memberikannya untukku.

Wah beruntung sekali kamu Nita. Apakah ayah dan ibu Gita mengetahuinya??, tanya ibu Nita.

Tentu saja Bu. Mana berani Gita memberikannya tanpa sepengetahuan orang tuanya. Mereka baik sekali ya Bu, kata Nita.

Iya nak. Tapi aku yakin Bapakmu tidak akan suka, kata ibu Nita sambil tetap memasak.

Tidak mungkin dong Bu, kata Gita yakin, Bapak pasti juga akan gembira.

Tunggu saja kalau Bapak pulang nanti, wanti-wanti ibunya.

Benar. Ketika ayahnya pulang ke rumah setelah seharian mengemudi becak, Nita langsung menyambutnya dengan memamerkan sepatu barunya. Tapi jawaban ayahnya seperti perkiraan ibunya tadi.

Apa?? Kau diberi sesuatu lagi oleh temanmu. Cepat kembalikan. Kita sudah menerima pemberian terlalu banyak dari mereka Nita. Dulu tas dan peralatan tulis-menulis kamu. Bulan lalu seragammu juga diberi oleh ayah Gita serta uang sekolahmu dilunasinya ketika Bapak tidak punya uang. Sudah tidak terhitung lagi pemberian mereka kepada kita.

Tapi Pak, Gita memberikannya dengan ikhlas kepadaku, kata Nita membela diri.

Betul??. Bapak tidak menyangkal ketulusan hati mereka. Tapi ini sudah terlalu banyak. Mereka selalu membantu kita, tapi apa yang bisa kita berikan kepada mereka??? Tidak ada, kata ayah Nita dengan sedih.

Mereka tidak mengharapkan balasan dari kita Pak, kata Nita mencoba meyakinkan ayahnya.

Tidak??. Pokoknya sepatu tersebut harus dikembalikan segera, jawab ayah Nita dengan tegas. Dan jangan menerima lagi pemberian mereka. Keluarga Pak Somad memang baik sekali, tetapi kita tidak bisa terus-menerus menerima bantuan dari mereka tanpa kita bisa membalasnya. Apa yang bisa kita berikan kepada mereka, mereka itu kaya sekali dan tidak memerlukan sesuatu dari kita yang miskin ini.

Tapi Pak??, Nita mencoba menawar.

Tidak ada tapi-tapian,, ini sudah menjadi keputusan Bapak. Sepatu itu sudah harus dikembalikan besok.

Ya Pak, kata Nita menyerah.

Gina memandang wajah Nita yang sedih ketika menceritakan alasannya mengembalikan sepatu pemberiannya tersebut.

Ya sudah, nggak usah sedih. Bagaimana kalau sepatu ini tetap kamu simpan saja, tidak usah bilang ayahmu, kata Gina menghibur.

Tidak bisa. Aku sudah janji pada Bapak untuk mengembalikan sepatu ini, kata Nita.

OK. Aku simpankan dulu ya sepatu ini, nanti jika ayahmu sudah tidak marah lagi, kamu boleh mengambilnya lagi.

Baiklah Gina, kamu memang baik sekali. Kamu memang sahabat sejatiku, kata Nita sambil memeluk sahabat karibnya itu.

Keesokan harinya, Gina tidak masuk sekolah. Nita mencari-cari ke manapun di sekolah tapi Nita tetap tidak tampak juga. Pada jam pelajaran ketiga Pak Guru memberi pengumuman kepada murid-murid sekelas Nita..

Anak-anak,, ada kabar buruk. Pak Somad, ayah Gina mengalami kecelakaan mobil pagi tadi. Beliau terluka parah dan sekarang berada di rumah sakit memerlukan darah yang cukup banyak. Bapak akan segera meminta guru-guru untuk mendonorkan darah bagi Pak Somad. Kalian dibolehkan pulang lebih awal.

Anak-anak segera berebut keluar kelas untuk pulang. Nita juga segera keluar ruangan dan berlari menuju ke tempat ayahnya biasa mangkal. Terlihat ayahnya masih duduk di atas becaknya menunggu calon penumpang. Nita bergegas menemuinya dan menceritakan pengumuman Pak Guru tadi.

Mereka berdua segera menuju ke rumah sakit dan menuju ke ruang gawat darurat di mana ayah Gina dirawat. Setelah ayah Nita menjelaskan maksud kedatangannya, seorang kerabat Pak Somad menunjukkan jalan ke ruang PMI untuk donor darah. Setelah darahnya diambil, terlihat para guru sekolah Gina berdatangan dan sebagian mendonorkan darahnya. Berkat sumbangan darah dari ayah Nita dan para guru, kondisi Pak Somad segera membaik.

Terima kasih banyak, Pak Aris, kata Pak Somad pada saat menengok Pak Somad di rumah sakit. Berkat bantuan Pak Aris, saya bisa pulih kembali seperti sediakala.

Ah tidak Pak, itu memang sudah kewajiban saya untuk membantu sesama. Apalagi kan selama ini keluarga Pak Somad sudah sangat sering membantu kami, tanpa kami mampu membalasnya, kata ayah Nita.

Pak Aris tidak perlu memikirkan untuk membalasnya. Kami melakukan semuanya selama ini dengan ikhlas. Nita kan teman Gina yang paling akrab dan sering membantu Gina dalam belajar dan mengerjakan tugas-tugasnya. Saya kira itu sudah cukup. Karena itu terima kasih Pak Aris telah menyelamatkan nyawa saya, kata ayah Gina sambil tersenyum.

Sama-sama Pak, kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang tak terhitung selama ini, kata Pak Aris.

Nita dan Gina saling berpandangan dengan gembira mendengar percakapan kedua orang tua mereka.

Kalau begitu, boleh kan saya memberikan sepatu saya kepada Nita??, tanya Gina.

Tentu saja, tentu saja Gina. Begitu kan Pak Aris. Ini sebagai ungkapan terima kasih kami, kata ayah Gina cepat-cepat.

Baiklah, jawab ayah Nita tidak mampu menolaknya.

Horeeeee.. teriak Gina dan Nita bersama-sama sambil melompat-lompat gembira.

Ha..ha..ha.. ayah ibu Gina dan Nita tertawa berderai melihat kelakuan kedua anak itu.

Terima Kasih kamu semua sudah baca artikel yang berjudul tentang Cerpen Persahabatan semoga dapat bermanfaat bagi kamu semua :)


Cerpen Persahabatan
"Cerpen Persahabatan" Di Posting oleh blog , , pukul 23.42 dalam topik Cerpen dan permalink https://ed-riz.blogspot.com/2011/11/cerpen-persahabatan.html. Nomer ID: 5.7.

Comments :